WPML not installed and activated.

Vision 2020 di Indonesia

By Christian Haryanto on 16 July 2017 in Edukasi Publik, News
1

Vision 2020 di Indonesia

 

Penglihatan merupakan hadiah yang tidak ternilai yang diberikan oleh Tuhan. Mata memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan. Saat ini, terdapat banyak gangguan/penyakit pada mata.

Setiap 5 detik ditemukan 1 orang di dunia menderita kebutaan.diperkirakan oleh WHO terdapat lebih dari 7 juta orang menjadi buta setiap tahun. Saat ini diperkirakan 180 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan penglihatan,dari angka tersebut terdapat antara 40-45 juta menderita kebutaan dan 1 diantaranya terdapat di South East Asia. Oleh karena populasi yang terus bertambah dan oleh faktor usia, jumlah ini diperkirakan akan bertambah 2 kali lipat di tahun 2020. Hal tersebut mempengaruhi kualitas kehidupan dan status sosial-ekonomi dan menjadikan ekonomi bangsa terletak di level rendah. Presentasi kebutaan mempengaruhi kontribusi ekonomi penduduk dalam grup usia 50-65 tahun dan hasil kerja oleh karena ekonomi sosial pada keluarga

Dengan adanya sumber daya manusia yang terampil dan adanya teknik operasi yang baik maka membawa harapan untuk merubah status penglihatan untuk menjadi lebih baik.

Dengan latar belakang itu muncul program ”Vision 2020: Right to Sight”, bertujuan mengurangi jumlah penyakit mata yang dapat menyebabkan kebutaan.

Vision 2020 adalah sebuah inisiatif global yang bertujuan untuk mengurangi kebutaan pada tahun 2020. Diluncurkan pada tanggal 18 Februari 1999 oleh Organisasi Kesehatan Dunia bersama-sama dengan lebih dari 20 organisasi non-pemerintah internasional yang terlibat dalam perawatan mata dan pencegahan dan manajemen kebutaan yang terdiri dari Badan Internasional untuk Pencegahan Kebutaan ( IAPB ).

Yang berkerja sama dalam tujuan vision 2020 termasuk; pemerintah, NGO, Asosiasi Profesional, Institusi kesehatan mata, mereka ini berkomitmen untuk mengeliminasi dan mencegah kebutaan di tahun 2020. Terdapat 3 indikator perencanaan aksi global, yakni prevalensi/penyebab gangguan penglihatan, jumlah mata yang mengalami gangguan dan persentase operasi katarak, usaha dari unit kesehatan mata dalam mempertahankan dan mengembalikan kesehatan mata.

Misi dari Vision 2020 adalah untuk mengeliminasi penyebab utama dari semua kebutaan yang dapat dicegah dan diobati sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 2020. Tujuan VISION 2020: The Right To Sight, adalah menyelesaikan misinya dengan mencapai tiga sasaran utama yaitu:

• Meningkatkan data penyebab kebutaan dan solusi yang akan membantu untuk menghilangkan masalah.

• Mengidentifikasi dan menjamin sumber daya yang diperlukan di seluruh dunia untuk memberikan peningkatan program pencegahan dan pengobatan.

• Memfasilitasi perencanaan, pengembangan dan implementasi dari tiga strategi inti vision 2020 oleh Program Nasional.

 

Strategi Inti dari Vision 2020

1. Kontrol terhadap penyakit: memfasilitasi pelaksanaan program-program khusus untuk mengontrol dan mengobati penyebab utama kebutaan.

2. Pengembangan sumber daya manusia: pelatihan bagi dokter mata dan perawatan mata lainnya untuk memberikan perawatan mata.

3. Infrastruktur dan pengembangan teknologi tepat guna: membantu peningkatkan infrastruktur dan teknologi untuk pelayanan kesehatan mata yang selalu tersedia dan mudah diakses.

 

Di Indonesia, Vision 2020 telah dicanangkan pada tanggal 15 Februari 2000 oleh Ibu Megawati Soekarnoputri sebagai Wakil Presiden saat itu. Sekitar 80% gangguan penglihatan dan kebutaan di dunia dapat dicegah. Dua penyebab terbanyak adalah gangguan refraksi dan katarak, yang keduanya dapat ditangani dengan hasil yang baik dan cost-effective di berbagai negara termasuk Indonesia. Sebagai titik awal perencanaan program penanggulangan kebutaan dan gangguan penglihatan yang direkomendasikan oleh WHO melalui Vision 2020 adalah ketersediaan data mengenai keadaan kebutaan dan gangguan penglihatan di suatu wilayah atau negara melalui metoda survei yang dapat diandalkan.

Terdapat 0,78% kebutaan akibat katarak yang tidak diterapi di Indonesia dan pada survey nasional 2014 di laporkan prevalensi katarak 1,8 % dan .kasus terbanyak ditemukan di South East Asia, katarak merupakan kejadian terbanyak dibandingkan penyakit glaukoma (peningkatan tekanan pada mata), gangguan di kornea dan gangguan/penyakit di segmen posterior bola mata.

     Penyebab kebutaan terbanyak di Indonesia:

    Katarak

0,78 %

    Glaukoma

0,20 %

    Gangguan Refraksi

0,14 %

    Gangguan Retina

0,13 %

    Abnormalitas Kornea

0,10 %

 

Kondisi status kesehatan mata di Indonesia

Gambar bagan presentasi kebutaan di negara South East Asia di Indonesia,

 


 

– 3 juta orang menderita kebutaan (1,5% dari populasi)

– Setiap menit terdapat 1 orang menderita kebutaan.

– Tertinggi di South East Asia

– Insiden kebutaan di setiap tahun yakni 0,1% (210.000 orang)

– Kebanyakan ditemukan pada populasi yang memiliki ekonomi rendah.

– 80.000 operasi katarak/tahun

– Backlog 130.000/ tahun

– Populasi di Indonesia yang menderita katarak 15 tahun lebih cepat dibandingkan di populasi negara berkembang

 

Berdasarkan laporan Biro Pusat Statistik, tahun 2025 penduduk usia lanjut meningkat 414 persen dibandingkan 1990. Masyarakat Indonesia juga berkecenderungan menderita katarak 15 tahun lebih cepat dibandingkan penderita di daerah subtropis. Sebanyak 16 persen-22 persen penderita katarak dioperasi sebelum usia 56 tahun.

Laporan dari daerah dan data survei Hellen Keller International di beberapa daerah kumuh perkotaan, seperti Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta tahun 1998 menunjukkan, hampir 10 juta balita menderita kekurangan vitamin A subklinis, 60.000 di antaranya ada gejala bercak spot (Xeroftalmia) yang bisa sebabkan kebutaan.

Beberapa data menunjukkan, 10 persen dari 66 juta anak sekolah di Indonesia menderita kelainan refraksi. Kondisi ini jika tidak ditangani cepat, akan mengakibatkan munculnya lapisan generasi muda Indonesia yang memiliki kualitas hidup dan intelektual yang rendah di kemudian hari.

Dari Survei Indra Penglihatan dan Pendengaran tahun 1993-1996 disusun masterplan Kesehatan Mata Nasional periode 1996-2005. Tanggal 15 Februari 2000, Megawati Soekarnoputri (waktu itu Wakil Presiden RI) mencanangkan program Vision 2020–Right to Sight di Indonesia. Dalam master plan itu, ditargetkan tahun 2005 angka kebutaan turun menjadi 1,2 persen, 1 persen di tahun 2010, dan 0,5 persen di tahun 2020.

Tahun 2003, Departemen Kesehatan RI bersama organisasi profesi Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) menyusun Rencana Strategi Nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan (Renstranas PGPK) yang menjadi pedoman Program Kesehatan Indera Penglihatan bagi semua pihak.

Setelah 5 tahun Renstranas PGPK, ternyata masih banyak faktor penghambat. Di antaranya yaitu kurangnya kepedulian masyarakat, pemerintah, serta organisasi nonpemerintah terkait penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan.

Banyak sarana kesehatan di tingkat kabupaten/kota belum memiliki fasilitas kesehatan mata serta terbatasnya sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan kebutaan dan gangguan penglihatan. Juga belum tertatanya sistem pelayanan kesehatan indera penglihatan yang integratif dan komprehensif. Kondisi ini diperparah dengan lemahnya manajemen untuk urusan gangguan penglihatan dan kebutaan, dari pusat sampai ke daerah. Akibatnya, target sulit tercapai.

 

Struktur vision 2020

 


 

Sumber: World Health Organization, Prevention of Blindness Program (WHO/PBD), 2005.

About the Author

Christian HaryantoView all posts by Christian Haryanto