Definisi Katarak?
Katarak adalah kondisi ketika lensa mata—bagian yang seharusnya bening—menjadi keruh seperti berkabut atau berasap. Akibatnya, penglihatan seseorang menjadi buram, warna terlihat pudar, dan penderita sering merasa silau saat melihat cahaya terang. Katarak umumnya terjadi seiring bertambahnya usia, namun bisa juga muncul lebih cepat akibat diabetes, tekanan darah tinggi, paparan sinar ultraviolet, atau trauma.
Kabar baiknya, katarak adalah penyebab kebutaan yang dapat disembuhkan. Satu-satunya cara mengatasinya adalah melalui operasi—tidak ada obat tetes atau obat minum yang bisa menghilangkan katarak.
Katarak dalam Angka: Situasi di Indonesia
Data dari berbagai survei dan riset kesehatan nasional menggambarkan betapa besarnya beban katarak di Indonesia:
| Indikator |
Angka |
| Prevalensi katarak nasional (Riskesdas) |
1,8% dari populasi |
| Kasus baru katarak per tahun |
± 210.000–250.000 orang (0,1% populasi/tahun) |
| Penyebab utama kebutaan di Indonesia |
77–81% dari seluruh kasus kebutaan |
| Prevalensi kebutaan usia ≥ 50 tahun (survei RAAB) |
3,0%, dengan 70–80% disebabkan katarak |
| Warga Indonesia dengan gangguan penglihatan (data PERDAMI) |
± 8 juta orang, 1,6 juta di antaranya buta |
Sumber: Kementerian Kesehatan RI (Riskesdas 2007, 2013, 2018), survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) 2014–2016, PERDAMI, dan INASCRS.
Indonesia vs Negara Lain; penanggulangan katarak?
Salah satu indikator yang dipakai secara internasional untuk mengukur akses layanan operasi katarak adalah Cataract Surgical Rate (CSR)—jumlah operasi katarak yang dilakukan per 1 juta penduduk setiap tahun. Semakin tinggi angkanya, semakin baik akses masyarakat terhadap layanan operasi.
| Negara |
Angka Operasi Katarak (per 1 juta penduduk/tahun) |
| Jepang |
± 10.200 |
| Australia |
± 8.000 |
| Thailand |
± 4.200 |
| Vietnam |
± 2.600 |
| Indonesia |
± 1.400 |
| Malaysia |
± 1.400 |
Negara maju seperti Jepang dan Australia memiliki CSR di atas 8.000–10.000, jauh melampaui negara-negara berkembang di Asia. Yang menarik, di kawasan Asia Tenggara sendiri terdapat kesenjangan yang cukup lebar: Thailand memiliki CSR sekitar 4.200 per juta penduduk (setara ± 300.000 operasi katarak per tahun secara nasional), dan Vietnam sekitar 2.600 per juta penduduk (setara ± 250.000 operasi per tahun). Kedua angka ini jauh di atas Indonesia, yang CSR-nya masih berkisar di angka 1.400. Artinya, dibandingkan populasi yang membutuhkan, jumlah operasi katarak yang dilakukan di Indonesia masih jauh dari cukup, bahkan bila dibandingkan sesama negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam yang secara ekonomi berada di level yang tidak jauh berbeda.
Mengapa Banyak Orang Menunda Operasi Katarak?
Survei yang dilakukan Kementrian kesehatan pada momentum Bulan Kesadaran Katarak 2024 mengungkap alasan utama masyarakat menunda operasi katarak, meski prosedurnya tergolong minim risiko:
- Tidak menyadari kondisinya sendiri — 51,6% responden
- Tidak mampu membiayai operasi — 11,6% responden
- Takut menjalani operasi — 8,1% responden
Data lain juga menunjukkan sekitar 8% pasien katarak baru datang berobat ketika kondisinya sudah berat, karena rasa takut terhadap prosedur operasi. Padahal, menunda operasi katarak justru meningkatkan risiko komplikasi, memperpanjang masa pemulihan, dan menurunkan peluang hasil penglihatan yang optimal setelah operasi—karena lensa yang sudah terlalu keruh dan mengeras (matur) lebih sulit ditangani dan lebih berisiko saat dioperasi.
Apakah Operasi Katarak Menyakitkan? Bagaimana Tingkat Keberhasilannya?
Soal rasa nyeri
Operasi katarak modern umumnya menggunakan teknik fakoemulsifikasi ("phaco"), yaitu memecah dan mengeluarkan lensa keruh melalui sayatan yang sangat kecil dengan bantuan gelombang ultrasonik, lalu menggantinya dengan lensa buatan (intraocular lens/IOL). Prosedur ini dilakukan dengan pembiusan lokal berupa obat tetes atau suntikan ringan di sekitar mata atau bius umum jika diperlukan. Durasi operasi juga singkat, sekitar 15–45 menit, dan pasien biasanya bisa langsung pulang di hari yang sama (tanpa rawat inap).
Jenis-Jenis Pembiusan yang Digunakan
Berbeda dengan bayangan banyak orang, operasi katarak hampir selalu dilakukan dengan pasien dalam keadaan sadar—bukan "dibius total" seperti operasi besar lainnya. Berikut jenis pembiusan yang umum dipakai, dari yang paling ringan hingga yang dipakai untuk kasus khusus:
- Bius tetes mata (anestesi topikal): Cukup dengan obat tetes, tanpa suntikan sama sekali. Ini adalah teknik yang paling banyak dipakai saat ini karena membuat mata mati rasa dengan cepat dan pasien bisa pulih lebih cepat setelah operasi.
- Bius tetes + suntikan kecil di dalam mata (topikal-intrakameral): Kombinasi tetes mata dengan sedikit obat bius yang disuntikkan langsung ke bagian dalam mata untuk kenyamanan ekstra, tanpa perlu suntikan di sekitar bola mata.
- Bius suntik di sekitar mata (blok sub-Tenon, peribulbar, atau retrobulbar): Obat bius disuntikkan di sekitar atau di belakang bola mata. Cara ini membuat mata benar-benar tidak bisa bergerak selama operasi, biasanya dipilih untuk kasus katarak yang lebih rumit atau operasi yang diperkirakan berlangsung lebih lama.
- Bius total (anestesi umum): Pasien ditidurkan sepenuhnya. Cara ini jarang dipakai dan hanya dipertimbangkan untuk kasus khusus, misalnya pasien anak-anak, pasien yang tidak bisa diajak kerja sama selama operasi, atau pasien dengan kondisi tertentu seperti tremor atau batuk kronis yang tidak terkendali.
Selama beberapa dekade terakhir, tren dunia bergeser jelas ke arah bius tetes mata (topikal) karena lebih nyaman bagi pasien dan pemulihannya lebih cepat. Sebuah studi besar di Eropa yang menganalisis lebih dari 4 juta operasi katarak antara 2008–2018 mencatat penggunaan bius tetes meningkat dari 30% menjadi 76% dari seluruh kasus, sementara teknik suntikan di sekitar mata menurun drastis. Di Indonesia sendiri, mayoritas rumah sakit dan klinik mata—termasuk yang menjalankan lebih dari 95% operasinya dengan metode fakoemulsifikasi—juga sudah menjadikan bius tetes sebagai pilihan standar, dengan opsi bius umum bila diperlukan.
Soal tingkat keberhasilan
Operasi katarak dikenal sebagai salah satu prosedur bedah paling aman dan efektif dalam dunia kedokteran. Berbagai sumber klinis melaporkan tingkat keberhasilan yang tinggi:
- Sekitar 90% atau lebih pasien mengalami perbaikan penglihatan yang bermakna setelah operasi, bila tidak ada gangguan mata lain yang menyertai.
- Studi yang dipublikasikan di Journal of Cataract and Refractive Surgery mencatat 94,3% pasien katarak mencapai hasil penglihatan yang baik pasca-operasi.
- Beberapa rumah sakit mata melaporkan angka keberhasilan hingga 95–99% pada operasi tanpa komplikasi penyerta.
Komplikasi serius tergolong jarang terjadi, dan risikonya dapat ditekan lebih jauh melalui pemeriksaan pra-operasi yang menyeluruh, termasuk pemeriksaan kondisi retina dan riwayat kesehatan pasien (seperti diabetes).
Proses Operasi Katarak
Target Nasional dan Global Menuju 2030
Menyadari besarnya kesenjangan ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan target global melalui strategi Integrated People-Centred Eye Care, yaitu meningkatkan cakupan efektif operasi katarak sebesar 30% pada tahun 2030. Sejalan dengan itu, Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan prevalensi gangguan penglihatan sebesar 25% pada tahun 2030, dihitung dari baseline tahun 2017.
Untuk mencapai target ini, dibutuhkan kombinasi antara peningkatan kesadaran masyarakat, perluasan akses layanan operasi katarak bersama jaminan nasionl BPJS, dan penguatan jumlah serta distribusi dokter spesialis mata di seluruh Indonesia.
Apa yang Bisa Anda Lakukan?
- Periksakan mata secara rutin, terutama bila berusia di atas 50 tahun atau memiliki riwayat diabetes/hipertensi.
- Jangan menunda pemeriksaan hanya karena penglihatan "masih bisa dipakai" — katarak berkembang secara bertahap dan sering tidak disadari sejak dini.
- Jangan takut pada operasi katarak — prosedur ini singkat, minim nyeri, dan memiliki tingkat keberhasilan tinggi.
- Manfaatkan skema pembiayaan yang tersedia, seperti BPJS Kesehatan, untuk operasi katarak yang terindikasi secara medis.
- Bantu sebarkan informasi ini kepada anggota keluarga lanjut usia yang berisiko.
Apakah Anda Sudah Mulai Mengalami Gejala Katarak?
- Usia di atas 50 tahun?
- Punya riwayat diabetes atau ada riwayat terbentur kencang?
- Sering berganti kacamata tapi ukurannya selalu berubah?
- Sering beraktivitas di bawah sinar matahari tanpa pelindung?
- Pandangan sering kabur atau silau saat malam hari?
Jika Anda menjawab 'Ya' pada poin-poin di atas, silakan konsultasi ke dokter mata terdekat
Frequently Asked Questions
- Apa saja pantangan setelah operasi katarak?
Tidak boleh: mengucek mata, kena air (termasuk cuci muka, wudhu), memakai makeup, olahraga berat. Tidak ada pantangan makanan.
- Berapa lama pemulihan pasca operasi katarak?
Beberapa hari hingga 1 minggu pertama, stabil dalam waktu 4-6 minggu. Obat tetes mata harus rutin digunakan sesuai anjuran dokter. Untuk memantau pemulihan operasi, pasien dianjurkan kontrol 1 hari dan 7 hari pascaoperasi. Kunjungan berikutnya bisa dilakukan sesuai kebutuhan
- Apakah katarak bisa tumbuh lagi setelah operasi?
Katarak yang asli tidak bisa tumbuh kembali karena sudah dibersihkan. Namun, sebagian pasien bisa mengalami kondisi yang disebut After-Cataract atau katarak sekunder (PCO - Posterior Capsule Opacification). Kondisi ini terjadi ketika kapsul tempat lensa buatan diletakkan menjadi keruh setelah beberapa bulan atau tahun pasca-operasi, yang membuat penglihatan kembali buram. Kondisi ini sangat mudah diatasi melalui prosedur laser singkat tanpa bedah (YAG laser capsulotomy).
Link Video Operasi Katarak (AAO): https://www.youtube.com/watch?v=4xJivTGL7eA
Daftar Pustaka:
- Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, 2013, 2018. Jakarta: Kemenkes RI.
- PERDAMI & Badan Litbangkes. Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) Survey, 15 provinsi, 2014–2016.
- Kementerian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan tentang Panduan Nasional Praktik Kedokteran (PNPK) Katarak Dewasa.
- Indonesian Society of Cataract and Refractive Surgery (INASCRS). "Indonesia's Cataract Problem." inascrs.org.
- Kementerian Kesehatan (2017):”Habis Gelap Terbitlah Terang”;https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/blog/20170426/3120633/habis-gelap-terbitlah-terang
- com. "8 Persen Pasien Katarak Takut Operasi, Baru Datang saat Kondisi Berat." 2026.
- World Health Organization (WHO). World Report on Vision, 2019 & 2023.
- Gogate P, et al. "Cataract Surgical Rate and Socioeconomics: A Global Study." Investigative Ophthalmology & Visual Science (IOVS), 2016.
- Ismail NAM, et al. "Evaluating Cataract Surgical Rate through Smart Partnership between Ministry of Health, Malaysia and Federal Territory Islamic Religious Council." PMC, 2023.
- Gondhowiardjo TD, et al. "Prevalence of Cataract in Rural Indonesia." Ophthalmology, 2005.
- Jurnal Cermin Dunia Kedokteran (CDK). "Faktor Risiko Katarak di Wilayah Kerja Puskesmas." 2024.
- Journal of Cataract and Refractive Surgery — data keberhasilan visual outcome pasca-operasi katarak.
- RS Mata Undaan, National Eye Center, Asia Eye Centre — materi edukasi prosedur dan keberhasilan operasi katarak.
- Geographical Inequality on Cataract Surgery Uptake in 200,000 Australians ("45 and Up Study"). PMC, 2022 — data CSR Australia.
- Association Between a Centrally Reimbursed Fee Schedule Policy and Access to Cataract Surgery in the Universal Coverage Scheme in Thailand. PMC, 2018; Cost-Utility Analysis of Bilateral Cataract Surgery in a Middle-Income Country. PMC, 2025 — data CSR & volume operasi Thailand.
- The Fred Hollows Foundation. "Vietnam Country Program." hollows.org, 2019 — data volume operasi katarak Vietnam.
- China OLIMPICS Trial Protocol — Background Literature Review, ClinicalTrials.gov — data perbandingan CSR Tiongkok, India, dan Vietnam.
- Dickman MM, dkk. "Anesthesia Techniques and the Risk of Complications as Reflected in the European Registry of Quality Outcomes for Cataract and Refractive Surgery (EUREQUO)." PubMed, 2022.
- British Ophthalmological Surveillance Unit. "Serious Complications of Local Anaesthesia for Cataract Surgery: A 1-Year National Survey in the United Kingdom." PubMed, 2006.
- "Teknik Operasi Katarak" & "Anestesi Lokal pada Mata (Peribulbar Block)." alomedika.com; keslan.kemkes.go.id
Materi ini disusun untuk tujuan edukasi masyarakat umum dan bukan pengganti konsultasi medis. Untuk diagnosis dan penanganan, silakan berkonsultasi dengan dokter spesialis mata.